Jabar “Ngeroyok” Podium di Jakarta: 7 Tiket Dunia Dikunci
CiMAHI, Dinamikakeadilan.com Ada pemandangan yang agak “salah alamat” di Padepokan PB IPSI Jakarta akhir pekan ini. Tuan rumah memang Jakarta, tetapi suasananya justru berbeda, maklum, kontingen Jawa Barat datang bukan sekadar numpang bertanding. Mereka datang, bertarung, lalu pulang membawa tujuh tiket menuju panggung dunia.
Dalam ajang Seleksi Nasional Formasi Tim Nasional Pencak Silat 2026 yang berlangsung 28–31 Agustus, pesilat Jawa Barat tampil dominan dengan mengunci tujuh nomor pertandingan. DKI Jakarta berada di belakang dengan enam nomor, sedangkan Jawa Tengah mengamankan tiga nomor. Selebihnya? Harus puas menyaksikan persaingan dari tepi gelanggang.
Seleknas kali ini juga bukan sekadar perebutan medali atau gengsi antardaerah. Para juara peluang dengan mengamankan tempat untuk memperkuat Indonesia pada World Pencak Silat Championship & Junior World 2026 di Tashkent, Uzbekistan. Artinya sederhana: siapa yang menang di Jakarta, semakin dekat dengan panggung dunia. Datang sebagai peserta bukanlah sebagai bagian dari kontingen yang hanya ikut meramaikan saja.
Sekretaris Umum IPSI Jawa Barat Yusup Munawar menyebut hasil tersebut sebagai langkah awal untuk mempertahankan tradisi prestasi pencak silat Jawa Barat. “Alhamdulillah. Ini langkah awal menjaga tradisi juara. Jangan euforia dulu, karena perjuangan panjang baru dimulai.” Kalimatnya terdengar sederhana, tapi pesannya jelas: podium seleknas bukan garis akhir. Jawa Barat masih harus bersiap untuk memperjuangkannya menghadapi tingkat persaingan yang jauh lebih tinggi. Sebab, tiket ke Tashkent bukan tiket wisata. Ada nama Indonesia yang harus dipertaruhkan di sana.
Sebelumnya, Ketua Umum IPSI Jawa Barat Phinera Wijaya juga melepas 21 pesilat yang dikirim ke ajang tersebut dengan pesan yang khas: “Pencak silat Jabar kudu juara.” Dan kali ini, slogan itu tidak berhenti di spanduk atau seremoni pelepasan. Jabar benar-benar juara. Bukan Cuma Mengandalkan “Anak Emas” Ada satu hal menarik dari dominasi Jawa Barat. Tujuh nomor yang berhasil diamankan bukan semata-mata hasil kerja satu-dua pesilat bintang.
Menurut Yusup, salah satu kekuatan utama Jawa Barat terletak pada regenerasi dan pelatihan yang berjalan terus-menerus. Ketika seorang senior selesai di level prestasi, sudah ada junior yang menunggu giliran. Ketika satu nama naik kelas, nama berikutnya sudah disiapkan. Itulah yang membuat prestasi tidak bergantung pada satu generasi.
Sistemnya seperti estafet: yang satu turun gelanggang, yang lain langsung mengambil tongkat. Tujuh Nama, Satu Mimpi Angka-angka dari Seleknas ini cukup berbicara: 7 nomor diamankan pesilat Jawa Barat. 6 nomor menjadi milik DKI Jakarta. 3 nomor diamankan Jawa Tengah.
21 orang pesilat Jabar sebelumnya dipersiapkan untuk menghadapi persaingan. 1 tujuan besar: Tashkent, Uzbekistan. Di atas kertas, Jabar boleh merayakan kemenangan. Tetapi di gelanggang internasional nanti, semua kembali ke nol.
Tujuh juara seleknas itu akan membawa beban yang jauh lebih besar: bukan lagi sekadar nama Jawa Barat, melainkan Merah Putih. Dan dari tujuh nama tersebut, masyarakat pencak silat Indonesia kini tinggal menunggu satu pertanyaan:
Siapa yang akan menjadi Sabeni atau Lutfi berikutnya—nama yang bukan hanya juara di tanah air, tetapi juga ditakuti di panggung dunia? Kalau tradisi juara Jawa Barat memang belum putus, Jakarta akhir pekan ini mungkin baru saja menjadi tempat lahirnya cerita besar berikutnya, Pungkas nya, (AFS).





Posting Komentar